Mereka yang bertanya-tanya tentang masa depan Internet perlu tidak melihat lebih jauh lagi dari Indonesia. Seperti banyak negara di Selatan Dunia, Indonesia telah dengan cepat masuk ke dalam alam komunikasi digital global. Ibukota negara, Jakarta, disebut sebagai kota Twitter paling aktif di dunia, dan Indonesia kini memiliki jumlah keempat terbesar pengguna Facebook. Dari jumlah yang praktis nol hanya satu dekade lalu, Indonesia sekarang memiliki sekitar 800.000 pengguna baru Internet setiap bulan. Seperti yang umumnya terjadi di negara-negara yang baru terhubung, sarana utama berkomunikasi online di Indonesia adalah ponsel — banyak orang Indonesia membawa dua telepon genggam — menjadikan para warga negara Indonesia terhubung dan terlibat aktif.

Tapi seperti banyak negara lain di Selatan Dunia, Indonesia memiliki banyak tantangan pemerintahan. Sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, kekhawatiran tentang masalah agama dan sosial selalu meresap ke tingkat perumusan kebijakan, dan merayap ke dalam diskusi tata kelola Internet. Negara kepulauan ini juga menjadi tegang akibat adanya ancaman perpecahan regional dan pertentangan dengan pemerintah pusat yang masih sesekali terlihat. Bom di Bali pada tahun 2002 dan 2005 masih ada di pikiran banyak orang dan mewarnai lanskap keamanan Indonesia. Meskipun rezim otoritarian telah berlalu, institusi demokrasi Indonesia terhitung masih baru lahir dan masih ada banyak masalah yang harus diselesaikan, termasuk pertanggung jawaban dari militer atas pelanggaran hak asasi manusia .

Laporan ini adalah yang pertama dari serangkaian laporan dari Citizen Lab yang menerapkan metode campuran, dari interogasi teknis saat penelitian lapangan berlangsung dan analisis sosial dan hukum, untuk mempelajari kontrol informasi pada saat dan sebelum atau sesudah peristiwa tertentu. Pendekatan kami dalam melakukan pemantauan berdasarkan aktivitas kontrol informasi merupakan evolusi riset Citizen Lab dalam melakukan penelitian dunia maya dan politik global. Selama periode keterlibatan kami di OpenNet Initiative,1 pendekatan yang kami gunakan dalam proyek itu adalah melakukan studi banding dari satu negara ke negara lain, tanpa pertimbangan khusus akan kapan penelitian tersebut dilakukan, terlepas dari ada atau tidaknya tim peneliti di negara tersebut saat penelitian ingin dijalankan . Sementara itu, kami melihat bahwa dinamika kontrol informasi yang paling menarik terjadi “just-in time” (pada saat waktu informasi tersebut sangat diperlukan) dan sekitar peristiwa politik, seperti pemilihan umum, hari peringatan, konferensi global, dan acara olahraga seperti Olimpiade dan World Cup. Sebabnya adalah pada saat peristiwa politik berlangsung maka informasi memiliki nilai dan kekuatan yang besar, dan yang paling sangat diperebutkan. Selain itu, peristiwa besar mungkin menciptakan standar atau peraturan baru, yang dapat menjadi standar atau peraturan yang dianggap normal setelah peristiwa tersebut selesai. Karena alasan ini, maka Citizen Lab telah memulai sebuah proyek baru yang mengadakan pemantauan berdasarkan aktivitas kontrol informasi, dan laporan ini adalah yang pertama.

Citizen Lab memilih untuk meneliti kontrol informasi saat dan sebelum Indonesia menjadi tuan rumah konferensi Forum Tata Kelola Internet (Internet Governance Forum (IGF)), yang berlangsung dari tanggal 20 Oktober sampai dengan tanggal 25 Oktober 2013. Para peneliti Citizen Lab, staf, dan rekan-rekan kami telah memiliki banyak pengalaman menghadiri IGF dan World Summit on the Information Society (WSIS) yang mengesankan, termasuk acara peluncuran buku dan presentasi lainnya yang di ganggu oleh pemerintah tuan rumah dan keamanan resmi IGF. Namun, partisipasi kami dalam IGF 2013 di Indonesia berlangsung tanpa gangguan. Tidak seperti acara-acara IGF sebelumnya, kami juga datang tidak hanya untuk hadir dan memberikan presentasi, tetapi juga untuk melakukan penelitian terapan selama acara tersebut berlangsung. Kami bekerja sama dengan mitra civil society Indonesia selama berbulan-bulan menjelang IGF, yang memberikan kami pandangan yang unik ke dalam proses politik seputar perencanaan dan persiapan. Dengan bantuan dari para rekan-rekan kami di Indonesia, beberapa di antaranya ingin tetap anonim, kami melakukan pengukuran jaringan di dalam negeri dan secara jarak jauh (remote network measurement) yang bertujuan untuk mendokumentasikan penapisan dan praktek pengawasan konten Internet, dan mewawancarai para pejabat yang menghadiri IGF. Collin Anderson, seorang peneliti independen, memberikan kontribusi data dari penyelidikan  oleh OONI2 yang dia lakukan selama IGF. Bagian dari laporan ini ditulis di tempat, dimana sebagian dari anggota tim kami bekerja dari tempat konferensi IGF atau dari hotel konferensi, sementara staf dan peneliti di kantor Citizen Lab di Toronto melakukan analisis teknis dan penelitian kontekstual. Penemuan awal kami dipresentasikan pada konferensi pers dan sesi panel di IGF. Bagian akhir dari laporan ini ditulis setelah IGF berlangsung, dan memberikan serangkaian refleksi pada proses keseluruhan.

Laporan ini diteliti dan ditulis secara kolaboratif , oleh Citizen Lab (dalam urutan abjad) Matt Carrieri, Masashi Crete-Nishihata, Jakub Dalek, Ron Deibert, Bennett Haselton, Saad Khan, Marianne Lau, Helmi Noman, Irene Poetranto, Adam Senft, dan Greg Wiseman. Hasil penelitian Citizen Lab sebelumnya yang dilakukan oleh Morgan Marquis-Boire, Bill Marczak, dan John Scott-Railton juga menginformasikan laporan tersebut. Irene Poetranto menerjemahkan laporan ini ke dalam Bahasa Indonesia. Ucapan terima kasih secara khusus kami berikan kepada Collin Anderson, Harijanto Pribadi (Kepala Departemen Indonesia Internet Exchange, Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia), Profesor Sinta Dewi Rosadi (Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran, Bandung, Indonesia), dan beberapa mitra civil society Indonesia yang berkontribusi terhadap melaporkan tapi ingin tetap anonim .